Breaking News
Loading...

Val benar-benar kagum dengan eksotika pulau ini. Di bagian timur dan selatan pulau tersebut membentang pasir putih yang lautnya belum tercemar dan nampak kebiru-biruan. Pasti sangat menyenangkan berada di tengah-tengah pulau nan indah, jauh dari kebisingan kota dan suara-suara teriakan minta deadline ‘’bisik Val’’ ditambah keramahan penduduk pulau yang jarang Val temukan di kota. Baru beberapa jam Val tiba warga kampung beramai-ramai datang ke rumah pak Rustam tempat Val menginap untuk sekedar bersalaman dengan Val. Val diperlakukan bak seorang selebritis. Lalu semangkok soto khas Madura lengkap dengan toppanya menjadi hidangan yang cukup mengganjal perut Val yang sedari tadi sudah bernyanyi setelah menempuh perjalanan selama berjam-jam.
Gili ketapang, begitulah nama sebuah kampung dan pulau kecil di Selat Madura, tepatnya 8 km di lepas pantai utara Probolinggo yang menjadi tujuan Val kali ini. Gili ketapang dihuni oleh suku Madura. Tak seperti kebanyakan dalam pikiran orang yang menganggap mereka suku yang arogan dan kasar dengan sebilah celurit yang setiap saat siap memakan korban. Bagi Val mereka cukup ramah dan bersahabat. Ah, masalah suku ini kerap kali menjadi awal pertikaian di negeri tercinta ini. Val yang asli Solo sering kali menjadi bahan ledekan teman-teman sekantornya yang selalu mengkonotasikan dirinya dengan putri Solo yang kerjanya lamban. Namun akhirnya Val bisa membuktikan bahwa putri solo juga bisa bekerja secara cekatan dan ulet hingga akhirnya Val bisa menduduki jabatan sebagai redaktur. Atau si Roy yang berasal dari ujung negeri ini kerap kali dipanggil si keriting. Val tak habis pikir, bukankah Tuhan menciptakan umat-Nya berbeda-beda dan bersuku-suku untuk saling mengenal dan melengkapi satu sama lain bukan untuk saling mencaci dan saling bermusuhan.
***
Pagi cerah ditemani Munah anak pak Rustam, Val berjalan menyusuri pantai. Semilir angin dan deburan lembut ombak hangat menusuk-nusuk kalbunya. Bagaikan labrin yang membentuk formasi begitu indah, saat Val menyaksikan di kejauhan perahu-perahu nelayan yang baru pulang melaut. Sementara di pinggir pantai para perempuan berjejer menanti kepulangan suami dan anak-anak mereka. Maka setelah puas bermain dengan deburan ombak sampailah Val pada sebuah titik. Sebuah batu karang raksasa berbentuk bulat memanjang yang memang menjadi tujuan kedatangan Val ke pulau ini.
‘’Inilah yang dinamakan gua kucing Kak, konon menurut cerita, dahulu pulau ini dihuni ribuan kucing yang dipelihara oleh syech Ishaq, salah seorang penyebar agama Islam di pulau ini. Namun setelah beliau meninggalkan tempat ini kucing-kucing itu menghilang tanpa diketahui rimbanya. Tapi anehnya setiap malam jum’at legi suara- suara kucing itu terdengar dari dalam gua.” Val mendengarkan cerita Munah dengan seksama. Tak hanya misteri tentang gua kucing yang membuat Val penasaran, namun bau-bau kemenyan serta beberapa bekas ritual yang dibiarkan berserakan membuat bulu kuduk Val merinding.
Meong!!! Seekor kucing berwarna belang tiba-tiba meloncat dari balik batu karang tepat disamping Val diikuti kucing-kucing lainnya hingga jumlahnya puluhan. Lalu di belakang kucing-kucing itu muncullah seorang gadis kecil berperawakan sedang. Beberapa saat kemudian gadis itu melemparkan remah-remah ikan asin membuat suara kucing-kucing itu semakin gaduh.. Gadis itu bagaikan ratu kucing di antara puluhan kucing-kucing itu.
‘’Dia Naila kak. Kasihan dia, emaknya meninggal saat melahirkannya sementara Eppaknya hilang di laut beberapa bulan lalu karena terseret ombak dan sekarang Naila hanya tinggal bersama kakeknya yang sudah tua. Kakeknya dari pagi hingga sore bekerja memperbaiki jaring dan kapal-kapal nelayan di kampung sebelah. Jadi setiap hari Naila hanya ditemani kucing-kucingnya itu. Orang-orang sini percaya bahwa Naila merupakan titisan salah satu pengikut syech Ishaq, yang lama tinggal di pulau ini dan kemudian menikah dengan salah satu penduduk’’ Gadis kecil yang unik, Val mengambil beberapa gambar keakraban dua makhluk berbeda rupa itu dengan camera pocketnya.
Ngapote…..
Wak lajere ethangale….
Reng majeng tantona la padha mole….
Sambil membelai kucing-kucingnya gadis itu ngejungan lirih, membuat Val semakin penasaran untuk mengenalnya lebih dekat.
***
Esoknya Val kembali ke tempat itu. ‘’Hai, aku Val, boleh kakak duduk di sini?’’ Val mengambil tempat di sebelah Naila. Sesekali Val ikut membelai kucing-kucing itu yang terlihat bersahabat. Gadis bernama Naila itu hanya sesaat tersenyum ke arah Val, sebelum kembali. bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Namun dari sorot matanya, Val yakin gadis itu menerima kehadirannya. Beberapa saat mereka terdiam dan hanya terdengar deburan ombak dan suara riuh kucing-kucing Naila.
‘’Namaku Naila, kalau kakak ingin kenal dengan kucing-kucingku yang lain mari ikut ke rumahku.’’ Gadis itu berlari-lari kecil menuju rumahnya, tak jauh dari gua. Di sebelah rumah sederhana itu terdapat sebuah tempat semacam kandang ayam lengkap dengan kardus-kardus bekas dan kain perca sebagai alas. Di dalam kardus beberapa ekor bayi kucing yang masih merah sedang menyusu pada induknya. Tak beberapa lama Naila masuk ke dalam dan mengambil piring kemudian meletakkan remah-remah ikan asin lalu mengelus bayi-bayi kucing itu penuh kasih. Setelah memberi makan kucingnya, Naila mengajak Val masuk ke dalam rumahnya. Rumah yang sangat jauh dari kata layak untuk dihuni, batin Val. Hanya ada sebuah meja dan dipan tua berbaur menjadi satu dengan dapur sehingga menimbulkan aroma yang sangat tidak nyaman. Namun ada hal lain yang membuat Val berdecak kagum. Dinding-dinding yang sebagian telah berlubang dipenuhi lukisan-lukisan yang juga bergambar kucing.
‘’Ini lukisan Nai, bagus kan Kak?’’ Gadis itu membawa selembar lukisan yang masih basah oleh cat warna. Val mengangguk mantap.
Val teringat beberapa waktu lalu, Val juga memiliki sepasang kucing ras pemberian seorang sahabatnya. Setiap saat Val menghabiskan waktunya bercengkerama dengan kucing-kucingnya. Val begitu sayang terhadap kucing-kucingnya. Val memberi mereka makanan juga tidak sembarangan. Dia memberi makanan khusus untuk kucing ras yang berharga cukup mahal, sehingga kucingnya terlihat sehat dan menggemaskan hingga rajin membawa ke dokter hewan. Satu hari kucingnya melahirkan beberapa ekor anak kucing yang juga lucu-lucu. Semakin ramailah rumah Val dengan kehadiran kucing-kucing mungil itu. Setiap pagi kucing-kucingnya mengantar Val ke depan pintu gerbang rumahnya sambil berputar-putar dan mengeong-ngeong manja seakan ingin mengatakan agar Val cepat pulang dan kembali bercengkerama dengan mereka. Namun pekerjaan Val sebagai seorang jurnalis yang harus meninggalkan rumah hingga berhari-hari membuat Val tak bisa merawat kucingnya seperti dulu. Pun demikian mama papanya juga sibuk bekerja. Lalu Val pun berpikir untuk menyewa seorang pembantu yang khusus merawat kucing-kucingnya. Namun binatang juga punya perasaan seperti halnya manusia. Mereka akan lebih nyaman jika yang merawat adalah majikannya sendiri. Kucingnya berubah menjadi pemurung dan tidak mau menyentuh makanan. Karena takut terjadi sesuatu akhirnya Val menitipkan kucing-kucingnya untuk dirawat saudaranya yang juga memiliki beberapa ekor kucing ras. Sungguh, Val sangat merindukan saat-saat menyenangkan itu.
***
Malam telah larut saat Val menyelesaikan laporannya. Val membuka kelambu, angin laut lembut menampar wajah putihnya. Di kejauhan lampu kelap-kelip dari perahu-perahu nelayan menambah indah suasana malam. Malam ini tepat malam jum’at legi, sayup-sayup Val mendengar puluhan kucing mengeong-ngeong riuh. Seperti kepercayaan warga setempat, setiap malam jum’at legi akan teredengar suara-suara kucing dari dalam gua. Namun Val lebih berpikir realistis, bahwa suara-suara itu pastilah datang dari kucing-kucing Naila yang memang dibiarkan bebas berkeliaran.
Namun bukan suara-suara itu yang mengganggu pikirannya. Ada hal lain yang lebih penting yang membuat matanya tak juga terpejam. Tiga hari lalu Gili Ketapang kedatangan tamu dari dinas kesehatan kota yang memberikan pengobatan secara gratis. Satu hal yang sangat menggembirakan dan ditunggu-tunggu warga kampung. Karena bagi mereka yang kebanyakan adalah nelayan kecil biaya kesehatan masih teramat mahal. Setelah pemeriksaan usai tersiarlah kabar yang mengejutkan sekaligus mengerikan. Beberapa perempuan didiagnosis terjangkit virus toksoplasma dan harus mendapatkan perawatan secara intensif. Dan menurut dokter satu-satunya cara memutus rantai penyebaran toksoplasma adalah dengan mengkarantina seluruh hewan peliharaan warga yang terindikasi menularkan virus itu termasuk puluhan kucing milik Naila. Berat bagi Val menyampaikan berita yang pasti akan sangat menyakitkan bagi Naila, namun harus Val katakan demi keselamatan warga kampung. Selama ini terjalin kedekatan yang cukup akrab antara Val, Naila dan kucing-kucingya. Naila banyak bercerita betapa dia sangat menyayangi kucing-kucingnya dan tak ingin berpisah dengan mereka selamanya.
Bagai petir di siang bolong. Naila benar-benar shock mendengar kabar yang disampaikan Val siang itu. Sesuatu hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Air matanya luruh saat petugas dari dinas kehewanan lengkap dengan masker dan sarung tangan mengambil satu persatu binatang piaraan milik warga untuk dimasukkan ke dalam sebuah kerangkeng besar. Hingga tiba pada eksekusi kucing-kucing Naila. Namun tak seperti binatang peliharaan warga lain yang begitu penurut ketika dibawa petugas. Kucing-kucing Naila yang semula jinak, berubah menjadi liar dan ganas. Beberapa mencoba mengeong, mencakar, meronta, seakan tidak rela dipisahkan dari tuannya.
‘’Jangan, jangan ambil kucingku.’’ Naila berusaha sekuat tenaga mencoba menghalangi proses eksekusi dengan membentangkan kedua tangan mungilnya di depan petugas.
‘’Biarlah Nak, mereka sementara membawa kucing-kucingmu,’’ kakeknya mencoba membujuknya. Namun Naila bersikeras tetap tak mengijinkan petugas membawa kucing-kucingnya.
‘’Kak Val, mengapa mereka begitu jahat ingin mengambil kucing-kucing Naila. Apa salahku?’’ kali ini suaranya merintih
‘’Percayalah, Bapak-bapak itu tidak sejahat yang Naila pikirkan, mereka hanya ingin mengobati kucing-kucing Naila supaya sehat ‘’
‘’Benarkah kak?’’
Val mengangguk kelu. Val menghapus air mata yang membanjiri pipi mungil Naila.
Meong!!! Seekor kucing berwarna kuning keemasan tiba-tiba lepas dari gendongan petugas dan menghambur ke pelukan Naila kemudian menjilati tangannya seakan ingin mengucapkan salam perpisahan.
“Pergilah pus, nanti Naila pasti akan datang mengunjungi kamu,’’ sesaat Naila memeluk dan menciuminya berkali-kali sebelum menyerahkan kepada petugas. Val benar-benar terenyuh menyaksikan peristiwa ini. Terbuat dari apa hatimu Nai, hingga makhluk-makhluk tak berdosa itu begitu mencintaimu dan ingin selalu ada di sisimu, batin Val. Beberapa saat kemudian truk yang membawa puluhan ekor kucing itu menderu pelan, meninggalkan jejak luka di hati Naila.
Lalu kegetiran melingkupi hari-hari Naila. Kemurungan tampak jelas di wajahnya. Sepulang sekolah atau mengaji Naila lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Tak ada lagi keceriaan atau canda tawa Naila dengan kucing-kucingnya. Tak ada riuh suara berebutan remah-remah ikan asin. Val benar-benar merasa bersalah tak bisa berbuat apa-apa untuk menghapus kesedihannya. Beberapa kali dia menanyakan kabar kucing-kucingnya dan kapan mereka dikembalikan membuat hati Val makin trenyuh. Karena Val tahu untuk mengembalikan binatang yang telah terjangkit penyakit tidaklah mudah. Ingin rasanya Val membawa Nai ke kota, membelikannya beberapa boneka kucing yang lucu atau mug-mug cantik bergambar kucing, sekedar menjadi pelipur hatinya.
Menjelang hari-hari terakhir kepulangannya, tiba-tiba Naila menderita demam tinggi. Val yang mengunjunginya sempat mendengar beberapa kali Naila mengigau memanggil kucing-kucingnya. Naila terlihat sangat merindukan kucing-kucingnya. Kembalikan kucingku, kembalikan! Val menitikkan air mata, tak kuasa setiap mendengar rintahannya. Beruntung setelah mantri desa memberi obat penurun panas, demam Naila sedikit mereda.
‘’Kak, jangan pergi!‘’ Naila menatap wajah Val dengan tatapan sendu. Matanya menyiratkan kesedihan sekan tak rela kehilangan sahabat untuk kedua kalinya. Val mencoba membujuknya dengan mengatakan bahwa dia pasti akan mengunjunginya kembali.
‘’Kalau kakak ke kota, Nai titip salam yah untuk kucing-kucingku. Tolong bilang kalau Naila sangat merindukan mereka.’’ Val mengangguk mantap
‘’ Ini ada hadiah untuk kakak.’’ Naila menyerahkan sebuah lukisan sederahana yang telah dibingkai dengan selembar plastik.
‘’Terima kasih saying.’’ Val memeluk dan mengecup pipi Naila lembut.
***
Val kembali memandangi gambar yang diberikan Nai. Gadis bermata belok dan berambut panjang dikelilingi oleh puluhan kucing, sungguh sangat indah dan terasa hidup. Anak itu benar-benar berbakat menjadi pelukis hebat, batin Val. Tiba-tiba ekor mata Val tertumbuk pada sudut lukisan yang lain. Sebuah titik-titik buram berwarna hitam. Seingat Val titik-titik itu tak ada sebelumnya. Penasaran, dengan sebuah spidol Val menghubungkan titik-titik itu. Deg! Sebuah perasan bergemuruh, seakan tak percaya dengan pengliatannya. Batu bulat memanjang dengan ujung lancip dan sebuah nama tertulis di sana, NAILA, aneh, apa maksud gambar ini. Belum selesai Val berpikir, Roy menyerahkan sebuah surat bersampul coklat susu. Maimunah, Gili Ketapang, Val membaca alamat yang tertera di sampul surat. Keringat dingin membanjiri wajahnya saat membaca kalimat demi kalimat dalam surat itu. Singkat namun membuat kepala Val berputar-putar tak karuan, Naila dan kucing-kucing kesayangannya. Malam jum’at legi. Mungkinkah ini jawaban misteri gua kucing itu? Jantung Val semakin berdetak tak karuan.

0 User Comment:

Poskan Komentar